KPK mengusut permintaan uang Karomani untuk meluluskan mahasiswa baru


Jakarta (Kabargadget) – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mendalami pengetahuan enam saksi terkait dugaan permintaan uang dari tersangka Rektor Universitas Lampung (Unila) Karomani (KRM) nonaktif untuk meluluskan calon mahasiswa baru.

KPK memeriksa enam saksi di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, terkait tersangka Karomani dalam penyidikan kasus dugaan suap calon mahasiswa baru tahun 2022 di Universitas Lampung (Unila).

“Saksi hadir dan didalami pengetahuannya, antara lain terkait dugaan permintaan uang dari tersangka KRM untuk meluluskan calon mahasiswa baru,” kata Kepala Bagian Pelaporan KPK, Ali Fikri, di Jakarta, Kamis.

Tiga dari enam saksi diperiksa pada Rabu (23/11), yakni Bupati Lampung Tengah Musa Ahmad dan dua pihak swasta yakni M. Alzier Dhianis Thabrani dan Thomas Azis Riska. Kemudian, tiga saksi lainnya diperiksa pada Selasa (22/11), yakni Jaka Adiwiguna yang berprofesi sebagai PNS, Asep Sukohar sebagai pengusaha, dan pihak swasta Mahfud Santoso.

Selain itu, kata Ali, tim penyidik ​​juga memastikan keenam saksi tersebut terkait aliran uang dari tersangka Karomani ke beberapa pihak.

Baca juga: Nama Herman HN disebut telah membayar “infaq” sebesar Rp. 250 juta suap di Unila

KPK juga memastikan tiga saksi yang tidak hadir dalam pemanggilan pada Rabu, yakni anggota DPR RI Muhammad Kadafi dan Bupati Lampung Timur M. Dawam Rahardjo, serta Sihono sebagai pengusaha yang tidak hadir pada Selasa (22/11).

“Ketiga saksi tidak hadir dan jadwal serta pemanggilan langsung disampaikan tim penyidik,” kata Ali.

KPK menetapkan total empat tersangka yang terdiri dari tiga penerima suap, yakni Karomani, Wakil Rektor I Bidang Akademik Unila Heryandi, dan Ketua Senat Unila Muhammad Basri; sedangkan tersangka pemberi suap adalah pihak swasta Andi Desfiandi yang berstatus sebagai terdakwa.

Dalam konstruksi perkara, KPK menjelaskan bahwa Karomani yang menjabat sebagai Rektor Unila periode 2020-2024 memiliki kewenangan terkait mekanisme Seleksi Mandiri Masuk Universitas Lampung (Simanila) Tahun Akademik 2022. .

Dalam proses Simanila, KPK menduga Karomani terlibat aktif dalam penentuan kelulusan dengan memerintahkan Heryandi, Kepala Biro Perencanaan dan Humas Unila Budi Sutomo, dan Basri untuk melakukan seleksi secara personal terkait kemampuan orang tua siswa.

Baca juga: Wakil Rektor II Unila: Uang Donasi Digunakan untuk Muktamar NU

Jika ingin dinyatakan lulus, calon mahasiswa bisa “dibantu” dengan menyerahkan sejumlah uang, selain uang resmi yang dibayarkan sesuai mekanisme yang ditentukan universitas.

Selain itu, Karomani juga diduga memberikan peran dan tugas khusus kepada Heryandi, Basri, dan Budi untuk mengumpulkan sejumlah uang yang telah disepakati dengan orang tua calon mahasiswa baru. Jumlah uang bervariasi dari Rp 100 juta hingga Rp 350 juta untuk setiap orang tua peserta seleksi yang ingin lulus.

Karomani juga diduga menyuruh Mualimin selaku dosen untuk ikut mengumpulkan sejumlah uang dari orang tua peserta seleksi yang ingin diluluskan Karomani.

Seluruh uang yang Karomani kumpulkan melalui Mualimin dari orang tua calon mahasiswa berjumlah Rp 603 juta dan sekitar Rp 575 juta digunakan untuk kebutuhan pribadi Karomani.

Sementara itu, dalam dakwaannya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK menyatakan Andi memberikan Karomani Rp. Suap 250 juta agar dua calon mahasiswa bisa masuk FK Unila tahun 2022.

Baca juga: KPK Panggil Anggota DPR Hingga Dua Bupati Terkait Kasus Rektor Unila

Reporter: Benardy Ferdiansyah
Fransiska Ninditya
HAK CIPTA © Kabargadget 2022

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *