Hasil Penelitian Gangguan Psikologis Pengguna TikTok Jadi Kontroversi : Kabargadget techno

HASIL Penelitian yang menjelaskan adanya gangguan psikologis berupa sindrom Tourette pada remaja putri pengguna TikTok belakangan ini sempat heboh.

Beberapa waktu lalu The Wall Street Journal memuat berita tentang penelitian yang dilakukan oleh peneliti di Vanderbilt University Medical Center Neurology yang menemukan adanya peningkatan gangguan psikologis yang dialami oleh remaja putri.

TIK tok

Mereka dilaporkan telah berkonsultasi dengan psikolog karena merasakan gejala sindrom Tourette. Dari penelitian dapat disimpulkan bahwa salah satu faktor pemicu gejala tersebut adalah penggunaan TikTok yang berlebihan.

Kajian tersebut juga mencakup berbagai video di TikTok yang rata-rata remaja putri menampilkan gejala Tourette saat menggunakan media sosial. Beberapa gejalanya termasuk memukul kepala, kata-kata tak terkendali hingga memaki.

“Kami melihat media sosial dan platform seperti TikTok sebagai pemicu utama. Ini memang sangat rumit, banyak individu yang datang mengalami gejala kecemasan tinggi dan mengisolasi diri secara sosial,” kata Dr David Isaacs, Assistant Professor & Division of Pediatric Neurology Pediatrics Assistant dari Neurologi Pusat Medis Universitas Vanderbilt.

Namun, penelitian itu segera menjadi kontroversial. Banyak peneliti lain mengatakan kesimpulannya terlalu gegabah. Mereka mengatakan TikTok tidak membuat banyak tekanan pada anak muda, terutama gadis remaja.

Gejala yang dialami oleh anak perempuan berupa sindrom Tourette awal adalah bentuk kecemasan, depresi dan stres traumatis yang disebabkan oleh konteks sosial yang lebih luas. “Gangguan psikologis terbentuk dari banyak komponen sosial. Gejala awal sindrom Tourette masih diperdebatkan secara luas,” Rebecca Lester, Profesor Antropologi Sosial Budaya di Universitas Washington.

Bukan hanya peneliti yang menyuarakan keraguan mereka. Berbagai kelompok bantuan sosial untuk penderita Tourette juga menyuarakan kekecewaannya. Kebanyakan dari mereka kecewa karena penelitian tersebut justru menyarankan agar Tourette dilakukan hanya untuk mendapatkan perhatian.

Ben Brown, pemilik podcast, Tourette’s Podcast mengaku sangat kecewa dengan berita yang didramatisasi itu. Ia mengatakan kabar tersebut membuat penderita Tourette semakin terpojok. Padahal mereka sendiri merasa sulit untuk diterima oleh masyarakat. “Sekarang ada penelitian yang mengatakan apa yang kita alami tidak aman untuk orang lain,” katanya.

Dr Christine Conelea, praktisi klinis dan peneliti dari University of Minnesota mengatakan gejala Tourette bukanlah sesuatu yang terjadi begitu saja karena pengaruh media sosial. Beberapa video pengguna TikTok yang menunjukkan gejala Tourette dikhawatirkan merupakan rekayasa yang memang berusaha mendapatkan perhatian.

“Dalam pengamatan saya, orang dengan gejala Tourette bukanlah orang yang ingin menunjukkannya untuk mendapatkan perhatian,” jelasnya.

Seperti yang lain, dia mengatakan penelitian itu benar-benar membuat penderita Tourette mundur. Kontras dengan upaya yang telah mereka lakukan untuk diterima dengan baik oleh masyarakat.

(DRM)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *